Surat Dari Mawar Layu 001
Bolehkah aku
menulis secarik surat pertama untukmu Tuan?
Maaf jika aku lancang. Namun aku ingin menuliskan ini. Entah setelahnya aku akan menyesal atau tidak.
Aku ingin mencintaimu selayaknya seseorang yang mempunyai sesuatu yang harus dijaga dalam dirinya
Menahan atas semua gemerlap dunia. Meretas rindu dengan tatap muka. Menyela-nyela kekosongan dengan mudahnya mendengarkan suara
Yang semua itu tak pantas bagi kita yang sama-sama mempunyai kalam Ilahi dalam hati
Aku mengagumimu ketika kau berbicara didepan umum
Aku mengagumimu ketika kau memegang mic melantunkan sajak Tuhan yang telah kau khatamkan
Aku mengagumimu ketika para Kyai dan orang saleh berada didekatmu
Aku mungkin sudah mencintaimu sejak obrolan pertama kita ditelfon pagi buta itu
Yang mungkin pula kucukupkan dalam mencintai dan merasa memilikimu adalah dengan doa dan rasa rindu menggebu yang hanya dapat bertemu dalam saat-saat tertentu. Menimbun semua harapan dapat mengobrol bersama yang hanya dapat terkabul setelah aqad nanti.
Bagiku, semua itu indah jika kita menyadari semua yang telah kita emban dan harus dijaga sepanjang usia. Tentang mencintai yang harus diam, rindu setiap malam yang harus tenggelam, dan pertemuan yang tak pernah dapat terkabulkan.
Bantu aku untuk menjaga semua yang telah aku perjuangkan selama ini. Aku tidak ingin semua perjuanganku menemukan kata sia-sia hanya karena nafsu batin yang menggelora.
Kita hanyalah dua orang manusia yang sama sama tahu tentang perasaan masing-masing.
Dan lajurnya, kita hanya dapat menunggu waktu yang tepat untuk dapat bersama, mungkin sekarang masih terburu-buru.
Jika aku boleh mengatakan, ketika aku tahu kita punya rasa yang sama. Aku akan menjaganya sampai Tuhan menunjukkan siapa sebenarnya laki-laki yang mengecup keningku sebelum tidur.
Aku tidak tahu ini apa. Namun aku benar-benar merasa cukup ketika aku tahu kau mempunyai rasa yang sama denganku. Aku merasa cukup dengan segala yang ada dalam dirimu. Aku telah dibutakan dengan segala macam laki-laki ketika aku sudah menemukanmu. Bolehkah kusebut kau adalah yang terakhir?
Entahlah. Perjalanan kita masih panjang. Aku tidak ingin munafik. Yang terpenting, aku akan menjaga semua ini selama belum ada yang menemuiku dikemudian hari
Demi ridho Umi, aku mencintaimu dalam bait-bait sajakku.
Indonesia, 29 Romadhon 1443 2.18 pm
Komentar
Posting Komentar