Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2022

Surat Dari Mawar Layu 008

Menjadi setelah atau semenjak, Entah dari sejak itu aku memilih iya atau pura pura mengubur kata tidak mau tahu Berawal kebimbangan, menemukan titik keyakinan dan berlanjut menuju jalan yang di kehendaki Tuhan Matamu Tuan, yang tak pernah lama dapat kupandang Kibas sarungmu yang selalu terngiang ketika jamaah  Renyah tawamu menggema bersama kicau burung kala senja Pada setiap ayat yang akan kita baca bersama Pada setiap pagi dengan aroma kopi dan lembaran kitab yang kau bacakan Aku menghimpun rindu semenjak kau langitkan doa untukku Tuan, Bolehkah aku membutuhkan lentera yang ada pada sinar matamu? Apakah aku yang keningnya akan kau hembuskan doa doa yang telah kita amini selepas sholat maktubah? Demi senja dimatamu, aku mencintaimu dalam bait-bait sajakku Indonesia, 17 Dzulhijjah 1443

Surat Dari Mawar Layu 007

Untuk kehadiratmu, Tuan Atas pertanyaanku apakah dapat membuka perihalku untukmu Diatas kebimbangan berwujud hening Untuk kehadiratmu, Tuan Berlandaskan stigma stigma positif yang kau bangun, aku beku Terpanah dalam hakikatnya Menjadi indah dalam pandangnya Walau kita tidak akan mendapatkan hak tersebut sampai terucap kata "Halal" Besok akan aku jelaskan Bagaimana jalanku begitu terombak saat ini Demi kehadiranmu, Tuan Aku dilema Indonesia, 9 Dzulhijjah 1443 

Surat dari Mawar Layu 006

Tiada dahulu dan sekarang Tidak pernah ada sarang yang bermakna mimpi Semua himpun, semua pengap, semua sama Ummi, Peluk aku dalam setiap runtuhku Bertahan dalam butaku memandang segalamu Berikrar dalam tangis menyebut namamu Bersembunyi dalam kebimbangan niat hati Ummi, Relung rasa yang kutulis tak pernah berbohong Ragu melucuti segala kekuatanku Peluh mengangkat egoku kembali Ummi, Izinkan aku bertahan dibawah naungan ridhomu Senja Arjawinangun, 02 Dzulhijjah 1443